Lesson Learnt from Beauty
27 Dec 2011 1 Comment
in Inspiration
Keindahan bukan dilihat dari wujud fisik, tapi lebih dalam dari itu. Inspirasi keindahan kali ini datang dari tayangan televisi yang menayangkan kisah masyarakat lereng gunung Bromo khususnya desa Tengger mencari nafkah dengan memetik dan menjual bunga edelweis kepada wisatawan. Edelweis yang tadinya biasa saja dirangkai dengan jenis bunga pegunungan lain mejadi bucket bunga yang sangat cantik. Ternyata perangkai bunga tersebut adalah wanita-wanita di sekitar desa Tengger, mereka dengan pandainya merangkai bunga-bunga itu menjadi lebih indah dan bernilai jual. Terharu saya waktu tahu harga jual bunga itu hanya 20 ribu saja. 20 ribu rupiah untuk keberanian luar biasa para lelaki mencapai puncak mencari bunga, untuk kreatifitas para wanita dalam merangkainya, dan ribuan langkah mereka menuju tempat para wisatawan. Tapi apa mau dikata, demi sesuap nasi, nilai jualnya hanya bisa ditawarkan seharga itu.
Keindahan memang datang dari mana saja, bahkan dari orang yang tidak kita duga. Kisah yang sama datang dari pengalaman lain saat saya belajar merangkai perhiasan. Kali itu saya berniat untuk membeil alat dan bahan membuat kalung, tapi si pegawai toko dengan ramahnya menawarkan saya kursus gratis merangkai aksesoris. Namanya Ika, gadis belia yang mungkin lebih cocok jadi siswa SMA. Saya tadinya hanya melihat dia sebagai seorang pegawai toko, tapi ternyata dia lebih dari itu. Ika seorang seniman perangkai perhiasan dengan menggunakan butiran-butiran mutiara imitasi, cantik sekali ! Dari dia saya belajar merangkai kalung dan gelang. Ia menunjukkan beberapa koleksi toko tersebut yang ia rangkai sendiri, harganya lumayan mahal sebanding dengan desainnya yang memang indah. Seorang Ika, seniman dibalik keindahan mewah sebuah kalung imitasi, hanyalah gadis belia yang polos dan rendah hati. Ia hanya mendapatkan upah seadanya untuk pekerjaan sebagai pegawai toko dan perangkai aksesoris, tapi Ika tampak bahagia. Tak ada raut sombong atas keindahan yang ia ciptakan melalui butiran-butiran mutiara itu.
Sedih sekali kalau ingat bagaimana saya sering menganggap orang lain setengah mata, hanya melihat dari apa yang terlihat dari dirinya. Padahal keindahan mereka jauh dari itu, lebih dari apa yang bisa ia kerjakan, yakni potensi dan kemampuan yang bisa jadi lebih baik ketimbang saya yang (kata orang) berpendidikan.
Terimakasih untuk perangkai bunga edelweis di Bromo, terima kasih juga untuk Ika si pegawai toko dengan bakat artistik luar biasa, semoga pelajaran tentang keindahan dari kalian selalu bisa saya ingat sampai kapanpun.
Let me sum up the story.. Keindahan yang kita lihat dan kita pamerkan selama ini mungkin saja datang dari pribadi-pribadi rendah hati. Mari lihat itu sebagai pelajaran.
Semoga bermanfaat.


Dec 28, 2011 @ 00:06:02
Sometimes GOD doesn’t give you what you think you want. Not because you don’t deserve it but because you deserve more……hahahahahahahaah