Sepotong Nostalgia KRL Ekonomi

Kemarin saya baru saja naik KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter atau Ekspress Jakarta-Bogor setelah sekian lama meninggalkan jenis transportasi andalan ibu kota ini. 7 bulan lebih tidak naik angkutan ini membuat saya kangen juga, akhirnya kemarin saya memutuskan untuk naik KRL menuju Depok sekaligus nostalgia ceritanya  XD

Meskipun sudah lumayan lama tidak naik KRL, tak banyak yang berubah dari stasiun dan kereta yang digunakan, hanya saja kali ini PT.KAI memang sedang gencar mensosialisasikan perubahan rute dan jadwal, jadilah stasiun Sudirman yang lengang di siang hari itu penuh dengan media promosi.

Sembari menunggu Commuter Jakarta-Bogor yang akan mengantar saya ke stasiun UI, lamunan saya melayang ke masa-masa kuliah dan pengangguran dulu. hehe..  Betapa tidak, KRL merupakan angkutan umum yang punya hubungan love-hate relationship dengan saya waktu itu. Lokasi rumah di Depok memang kurang strategis secara transportasi. Pilihan angkutan umum ke Jakarta yang paling efetif ya cuma KRL itu. Dan dengan setia saya jadi pengguna KRL jika harus bepergian ke Jakarta.

Love karena KRL merupakan alat transportasi yang murah dan cepat (hmm saya ga nemu alasan lain untuk mencintai angkutan ini selain dua hal itu ;p), Hate karena khususnya KRL ekonomi gak pernah gagal bikin penumpangnya stress. Jadwal yang sering telat, kondisi fisik kereta yang kurang layak, penumpang yang  melebihi kapasitas, pedagang, pengemis, pengamen yang hilir mudik di dalam, belum lagi potensi kriminalitas yang tinggi. Kebayang kan sisi hate nya? (Kadang kalau stress di KRL ekonomi pengen rasanya ngajak menteri Transportasi buat ikut ngerasain) haha..

Look !!

Anyway, balik lagi ke lamunan tadi.. Saya keinget banyak kejadian di KRL yang pernah saya lalui selama ini. Saya jadi bangga sendiri kalau inget-inget saya bisa melewati ‘ujian’ menjadi penumpang KRL Ekonomi. Pernah suatu ketika saya harus mendatangi sebuah acara di Kuningan. Tentu saja dengan pakaian rapi, high heels dan make up. Acara selesai pukul 17.00, jadilah saya ke stasiun Tebet pukul 18.00 yang bisa dibayangkan penuhnya seperti apa. Semua pekerja yg tinggal di daerah sub-urban Bogor-Depok menunggu kereta yang (jadwalnya) setengah jam sekali dengan keadaan yang sudah penuh dari stasiun Kota. Jangan bayangkan pekerja itu semua wanita atau pria rapi dengan celana/rok bahan dan kemeja. Banyak diantara calon penumpang juga merupakan pekerja-pekerja bangunan yang kalau diceritakan penampilannya pasti bikin kita males. Oke, skip. Nah kebayang dong seperti apa? Jam setengah tujuh,  kereta yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. 15 menit kemudian sorot lampu dari rel sebelah kiri mulai terlihat. Alhamdulillahh.. eh tapi jangan senang dulu, disinilah ujian utamanya. Pertama, keretanya penuh bangett! Bayangin aja, sebelum stasiun Tebet ada beberapa stasiun yang harus dilalui KRL Ekonomi ini, which means penumpangnya banyak banget, sampai-sampai banyak yang harus duduk di atas gerbong kereta.  Kedua, keretanya gelap! Wait.. iya, literally gelap! Memang tidak semuanya, tapi hampir sebagian besar gerbong kereta entah kenapa lampunya tidak menyala. Tapi apa mau dikata, demi kembali ke rumah pilihan satu-satunya ya menaiki KRL itu. Bisakah? Bisa dong! Kalau disuruh menceritakan gimana caranya saya bisa naik ke dalam gerbong kereta dengan penampilan segitu anggunnya dan ber-heels 7 centi, saya juga bingung. Disitu yang bertindak bukan lagi syaraf sadar, sudah sampai tahap adrenalin yang bicara. hahaha…

keadaan di stasiun KRL Ekonomi sore hari

Oke, sampailah saya di dalam gerbong, berdesakan dengan peluh-peluh penumpang lain yang saya sendiri jijik buat ceritainnya di tulisan ini. Belum lagi keadaan yang gelap, dan terhimpit! Segitu aja? Belum saudara-saudari. Masih ada banyak stasiun yang harus dilalui sebelum akhirnya saya sampai di stasiun UI. Tebet-Cawang-Duren Tiga-Pasar Minggu Baru-Pasar Minggu-Tanjung Duren-Lenteng Agung-Univ Pancasila- baru deh stasiun UI ! Bayangin di tiap stasiun itu puluhan orang lainnya meringsek masuk ke dalam gerbong padat, pengap, gelap, dan bau itu. Ughh… (ga usah dibayangin denk ;p) Oh dan satu lagi, kanan-kiri saya orang-orang berperawakan besar yang kalau dari pembicaraannya ketahuan banget preman-preman terminal, rasanya pengen nangis dalam keadaan kaya gitu, tapi ga mungkin juga kan?!

 

Saya ga usah ceritakan gimana ending ceritanya, Alhamdulillah bisa sampai rumah dengan utuh. Pengalaman seperti itu gak cuma sekali-dua kali terjadi, tapi sering banget dan pastinya ga mungkin saya lupakan. KRL Ekonomi Jakarta-Bogor memberikan saya banyak pelajaran betapa hidup di Jakarta itu tidak mudah, dengan berbagai permasalahan transportasi yang ada, ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak lainnya. Coba saja, hampir semua angkutan transportasi umum di Jakarta punya masalah, kita tak lagi bisa berharap banyak. Kalaupun pakai mobil pribadi, tetap saja kena macet.

KRL Ekonomi juga punya banyak hikmah saat kita mau melihat lebih jauh. Di angkutan ini saya diajarkan Tuhan caranya bersyukur.  Lihat ketika kita menumpangi KRL Ekonomi, ada banyak sekali pengemis, anak jalanan, pemulung, bahkan tak jarang kondisi fisik mereka tidak lengkap. Bandingkan dengan kita yang masih hidup berkecukupan, keluhan kita sepertinya tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang menghabiskan hampir seluruh harinya di dalam gerbong KRL Ekonomi. Malu rasanya kalau harus mengeluh padahal selain kita masih ada mereka yang bisa tersenyum dalam kegetiran hidupnya.

KRL Ekonomi, sejuta kisah dan hikmah dibalik kerasnya transportasi ibu kota. Semoga tulisan ini bisa menggugah kita semua untuk selalu bersyukur dan mengambil pelajaran dari hal yang kita tak suka sekalipun.

 

Salam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 498 other followers