Pelangi

Tak ada yang bisa menandingi kejujuran kata-kata dari jiwa yang terhempas, yang seolah tak punya kalimat lain dalam benaknya yang cukup menyenangkan tuk didengar. Entah tulisan ini rangkaian diksi dalam logika, atau memang meluncur begitu saja dari dalam hati, jangan kau tanyakan. Bahkan sekarang logika dan perasaan tak bisa kubedakan.

Diluar sana hujan menyambut sore, mencumbu tanah yang selama ini kering oleh panasnya matahari, dan kalau boleh kukatakan, aku iri pada bumi sore ini.

Setelah ini aku yakin akan ada pelangi yang siap meninggalkan jejak. Pernah ku mendengar seorang bijak berkata pelangi merupakan metafora paling sempurna agar manusia selalu berpikir akan ada indah dibalik setiap duka. Begitulah pelangi, nyatanya bukan jiwa ini.

Ketukan jari ini semakin cepat seolah ingin mengejar derasnya hujan, secepat deru adrenalin yang mengalir dari anak ginjal menuju hati, atau otak? ah sudalah toh bahkan aku tak bisa membedakan isi keduanya. 

Lama kupandangi, hingga hujan perlahan pergi.. namun pelangi yang kubayangkan tak kunjung datang, ah aku baru ingat.. memang tak selamanya pelangi hadir menghapus jejak hujan.

Kau yang berbagi hujan yang sama, apakah kau lihat pelangi dari sudutmu?

 

 

Jakarta, 3 November 2011

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 498 other followers