Paradoks

 

 

 

 

 

 

 

 

“Lepaskan saja, jangan kau bebani pikiranmu sendiri dan terjerat didalamnya”

Lama kuacuhkan bisikan itu hingga kini ku menyesal terjerat dalam pikiranku sendiri. Ah andai secangkir coklat panas yang melepaskan sejenak lelahku sore itu lebih keras membisikannya, mungkin saat ini tak ada seberkas luka disini.

Seorang motivator handal pernah berkata, seseorang bisa bertahan hidup tanpa makan, tapi tak pernah bisa bertahan jika tanpa harapan, karena harapanlah kita berani melangkah, dan dengan harapanlah kita bisa tidur dengan nyenyak karena tahu esok pasti ada.

Benarkah demikian? Harapan saat ini buatku tak sefantastis definisi para motivator itu, hanya sebilah pedang bermata ganda dimana hidup dan mati dipertaruhkan diatasnya. Dan sialnya saat ini mata pedang antagonis merobek perasaanku.

Lelah rasanya jika ingat hari-hari coklat panas itu -yang akupun bahkan lupa kapan- saat angan ini terbang melayang melewati langit batasan, saat mata ini jauh memandang menerobos puluhan hari yang bisa saja hari ini, there I saw myself not here, not in this feeling, not at all.

Kenyataannya tentu berbeda, aku jatuh sejauh aku melayang melewati langit batasan, rasanya jangan ditanya. Jika dipikir-pikir, lucu juga. Beberapa hari sebelum secangkir coklat panas itu pun aku berada di tanah yang sama, dengan nyawa yang sama tak kurang sedikitpun. Dan saat inipun begitu bukan? Aku menginjak tanah yang sama, eh tapi tunggu dulu… nyawaku belum tentu. Bisa saja luka ini makin membesar karena terjatuh terlalu tinggi. Ya, bisa saja.

Kini aku terlalu takut menengadahkan kepalaku, bahkan takut untuk melihat kembali langit itu, langit yang sama dimana aku terjatuh darinya. Pandanganku juga terbatas, tak lagi menerobos hari-hari imajiner yang seolah singkat. Dimensi ini rasanya berubah, tak lagi waktu dan tempat yang sama, bukan, bukan ini.

Ah tapi toh diam tak akan membuat luka ini sembuh, setidaknya aku bisa bertaruh dengan langkahku yang sekarang. Bertaruh dengan pedang harapan baru yang lagi-lagi punya resiko yang sama, bahkan lebih besar.

Hanya saja kali ini aku harus lebih siap, tak lagi melayang melewati langit batasan, meskipun candunya tak bisa kutahan.

 
Jakarta, 3 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 498 other followers